بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Rabu, 12 Maret 2014

Batam Dibanjiri Ikan Lele Asal Malaysia





Batam - Pengusaha ikan mengeluhkan ikan lele impor yang membanjiri pasar-pasar di Batam dan Kepulauan Riau. Ray S. Stefan, pengusaha ikan lele, mengatakan dari kebutuhan 10 ribu ton ikan lele setiap bulan, sebanyak 75 persen didatangkan dari Malaysia.

"Banyak pengusaha ikan lele (lokal) terancam gulung tikar," kata Stefan kepada Tempo, Selasa, 18 September 2012. Menurut dia, harga ikan lele impor lebih murah dibandingkan dengan produk lokal. Lele asal Malaysia dijual Rp 14.000 per kilogram, sedangkan harga pasaran lele lokal mencapai Rp 18.000 per kilogram.

Murahnya lele impor tersebut, kata Stefan, tak lepas dari permainan tengkulak yang bekerja sama dengan petambak di Malaysia. Lele impor sengaja dijual murah agar kelak bila telah menguasai pasar dan semua petambak lele lokal tutup, harga dapat dikendalikan Malaysia.

Anjloknya harga ikan lele telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Stefan mengatakan dulu ketika impor ikan lele dilarang, peternak ikan lele di Batam bergairah dan memberi peluang kepada masyarakat untuk berternak ikan lele. Oleh sebab itu, banyak orang beralih profesi menjadi peternak ikan lele karena prospeknya bagus.

Menurut Stefan, di Batam terdapat 600 peternak ikan lele dan tak kurang dari 4.000 kolam ternak lele. Selama ini produksi ikan lele di Batam mampu dipenuhi peternak lokal. Itu karena ikan lele mudah diternak.  Produk peternak lele di Batam mampu memenuhi kebutuhan tidak hanya Batam, tapi juga Kota Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun. "Jadi tidak perlu impor jika kita bisa peroleh dari daerah terdekat," katanya.

Kartono, seorang peternak ikan lele, mengatakan cara pedagang asing memberangus usaha anak negeri bisa beragam cara, termasuk dengan menjual produk mereka lebih murah. Di masa datang, karena ketergantungan, maka harga dinaikkan sekehendak hati mereka. "Jadi waspadai cara seperti ini," katanya.

Kepala Karantina Ikan, Ashari Syarif, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti keluhan peternak lele. Sebab, hal ini sesuai dengan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/2012 memberlakukan pembatasan impor ikan. Surat Menteri Kelautan ini kemudian diperkuat oleh Peraturan Direktorat Jenderal Kelautan dan Perikanan Nomor 231/2011 yang mengatur jenis-jenis ikan yang diijinkan masuk Batam, termasuk ikan lele. "Ini bahan masukan bagi kami," kata Ashari Syarif.

Syarif menyatakan pihaknya angkat tangan bila ikan lele yang membanjiri pasar di Batam ternyata masuk melalui jalur ilegal. "Larangan impor ikan lele belum dicabut," katanya.

sumber : tempo.co

Ketika Makanan Rakyat Pun Harus Impor (Red:Lele) dari Malaysia

Problem terbesar bagi petani lele adalah harga pakan yang mahal dan harga jual yang murah.

Asep tidak bisa terima dengan kebijakan pemerintah mengimpor lele dari Malaysia. Meski impor itu ditujukan untuk kawasan Kepulauan Riau, sementara Asep berdomisili di Parung, Jawa Barat, dia tetap merasa jengkel dan marah ketika mendengar berita bahwa impor lele dari Malaysia sekitar 60 ton per tahun.
Berita itu dia ketahui dari media massa yang mengungkapkan impor ikan lele dilakukan, karena harga lele yang dipasok dari Pulau Jawa ke Provinsi Kepulauan Riau lebih mahal dibandingkan dengan pasokan dari Malaysia.
Ini seperti yang diungkapkan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Djasarmen Purba, berdasarkan temuan hasil kunjungan kerja Komite II DPD ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau beberapa waktu lalu.
"Kenapa nggak memberdayakan petani dalam negeri saja? Itu kan sama saja membunuh petani lele," ujar Asep (34) kepada SH, Jumat (7/9). Siang yang panas tidak dihiraukannya. Pria yang masih hidup membujang ini tetap meladeni pertanyaan SH sambil menyablon baju kaus pesanan.
Gelar sarjana komunikasi ditinggalkannya karena dia kini lebih tertarik dengan dunia bisnis. Namun di saat musim kemarau macam sekarang, bisnis perikanan ditinggalkannya untuk sementara waktu dan beralih menjadi penyablon baju kaus, poster, dan lain-lain. Sementara petani-petani ikan lain di kawasan Parung yang kurang berpendidikan kebanyakan beralih pekerjaan menjadi kuli proyek.
Para petani kecil dan sarjana seperti Asep akan kembali menjadi petani ikan setelah hujan mulai membasahi lahan mereka di Desa Poktua, Kecamatan Kemang, Parung, Bogor, Jawa Barat. Asep memilih menjadi petani ikan khususnya lele, karena pada awalnya mengira penghasilannya besar.
Sebelumnya ketika sedang survei untuk memulai usaha secara mandiri, dia melihat banyak orang yang memelihara lele dan banyak pula warung pecel lele di pinggir jalan, malah ada pula rumah makan lele yang laris manis.
Dia juga memilih lokasi usaha di Parung karena Parung menjadi daerah sentra produksi berbagai jenis ikan, seperti lele, gurami, nila, mas, dan patin. Untuk lele saja, di seluruh Parung bisa menyediakan sekitar 5 ton lele per hari. Angka 5 ton itu diperoleh SH dari Acong, pedagang pengumpul ikan di Parung. Di dunia perikanan dikenal istilah petani ikan, lalu pedagang perantara, serta pedagang pengumpul.
Petani biasanya menjual ikan hasil produksinya kepada pedagang perantara atau ada yang menyebutnya tengkulak.
Kemudian pedagang perantara menjualnya lagi ke pedagang pengumpul atau pengepul semacam Acong. Asep tak tahu apakah lele hasil produksinya termasuk yang akhirnya dibeli oleh Acong. "Saya hanya tahu lele saya dibeli murah oleh tengkulak," ujar Asep sambil mengusap wajahnya.
Banyak Kendala
Setelah menjalani pekerjaan sebagai petani lele, ternyata antara teori yang dipelajarinya dari buku-buku dan belajar secara langsung dari petani ikan dengan kenyataan jauh berbeda.
Secara teori, lele memang sudah bisa dipanen setelah umurnya 60 hari. Tapi ternyata harga pakannya mahal. Untuk 1 kilogram pelet harganya sudah sekitar Rp 7.000.
Asep memang sudah mencoba mengganti pelet dengan pakan alternatif, seperti usus ayam yang harganya hanya Rp 2.000 per kilogram, serta nasi sisa atau nasi bekas dari restoran-restoran yang bisa diperoleh secara gratis.
Tapi nyatanya dengan pakan alternatif itu, saat ditimbang berat badan lele lebih ringan dibandingkan dengan jika makan pelet. Selisihnya bisa sekitar 30 persen.
Problem lain muncul kalau terlambat memberi makan lele. Karena jika kelaparan lele yang kecil akan dimakan oleh lele yang besar. Ini sesuai dengan sifat lele yang kanibal. Persoalan masih bertambah, karena harga jual lele murah. Satu kilogram lele dijual Rp 12.000, berisi 7-8 ekor. Ini sangat tidak sesuai dengan FCR ikan lele.
Menurut Asep, FCR atau Food Coeficient Ratio adalah perbandingan antara 1 kilogram pakan dengan 1 kilogram daging lele adalah 2:1.
"Makanya nggak akan bisa untung, karena 2 kilogram pakan hanya menghasilkan 1 kilogram daging. Kalau 1 kilogram pakan harganya Rp 7.000 maka untuk 2 kilogram harganya Rp 14.000, padahal ini hanya menghasilkan 1 kilogram daging yang harganya cuma Rp 12.000. Lha mana bisa untung?!" ujarnya.
Belum lagi ongkos tenaga kerja, harga obat-obatan untuk lele, dan ongkos pemeliharaan kolam misalnya galengan jebol, pipa pralon pecah, dan menggali tanah untuk memperdalam kolam ikan setiap kali setelah panen. "Apalagi saat ini tak ada air, gimana lele bisa hidup?" Asep menambahkan.
Matanya menerawang ke langit saat mengatakan, "Kekeringan kan tidak hanya sekali ini terjadi tapi sudah berkali-kali. Kenapa pemerintah tidak juga memperbaiki saluran irigasi?"
“Coba saja lihat, kalau irigasi lancar dan harga pakan murah, pasti pemerintah tak perlu impor lele. Lha kalau pemerintah impor lele, bagaimana saya bisa jualan?” sambung Asep.
Setahu Asep, berdasarkan berita yang dia dapat dari media massa, harga impor lele lebih murah daripada harga lokal. Ini dinilainya menunjukkan ketidakpedulian pemerintah terhadap masyarakat. Pemerintah tidak pro rakyat tapi pro importir.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan mahalnya ikan di beberapa wilayah disebabkan oleh masalah distribusi dan beberapa wilayah tidak cocok untuk budi daya ikan termasuk lele.
Kata menteri, pihaknya baru saja menghentikan kegiatan impor empat perusahan di Jakarta karena telah memasukkan lele konsumsi dari luar negeri.
Petani terpelajar seperti Asep tak mau tahu apakah pemerintah serius menghentikan impor lele. Yang dia tahu, ia dan para petani ikan lainnya semakin hidup kembang-kempis. Kalau kendala yang dia hadapi dibiarkan terus terjadi maka petani ikan bisa jadi tidak mau memproduksi lele lagi.
Sementara mencari pekerjaan lain sebagai gantinya tidaklah mudah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana akibatnya nanti. Jangan sampai kejahatan merajalela, karena desakan kebutuhan perut tak bisa ditahan-tahan.

Sumber : Sinar Harapan

Selasa, 12 November 2013

PAKAN IKAN SEDERHANA


Pakan buatan bagi ikan dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan ikan dan diberikan untuk menyuplai makanan pada kolam dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya yang telah menipis atau habis sama sekali. Pakan merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam suatu usaha budidaya ikan, karena merupakan penyumbang biaya produksi yang paling besar dibandingkan parameter lainnya.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Untuk dapat tumbuh dengan baik, ikan pada umumnya membutuhkan nutrien/gizi yang lengkap. Aspek kebutuhan gizi pada ikan adalah sama dengan makhluk hidup lain, yaitu : protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral agar dapat melakukan proses fisiologi dan biokimia selama hidupnya.
Jenis bahan baku pakan ikan yang biasa digunakan :
- Bekatul / Dedak Halus :
Bekatul mudah diperoleh dari tempat penggilingan padi dan harganya relatif murah. Bahan yang dipilih harus mempunyai tekstur yang halus, tidak berbau apek dan memiliki warna yang segar, sehingga bila digenggam terasa lembut dan gumpalan yang terbentuk setelah digenggam mudah pecah. Bekatul segar berbau mirip beras (tidak tercium bau apek)

- Tepung Ikan :
Tepung ikan harus berkualitas baik, bila diamati berwarna kuning kecoklatan, bersih tidak tercampur dengan kotoran lain, berbau khas seperti ikan kering tidak tengik ataupun asam. Ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting) dan sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan. Penggunaan tepung ikan didalam pakan komersial biasanya berkisar antara 10 – 40 %

- Bungkil Kedelai :
Bungkil kedelai atau ampas tahu yang berada di pasaran biasanya masih basah atau setengah basah, oleh karena itu harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur. Bungkil kedelai digunakan sebagai pengganti tepung kedelai yang merupakan sumber protein nabati, tepung kedelai memiliki profil asam amino terbaik. Penggunaannya didalam pakan komersial berkisar antara 10–25%.
Tepung Kepala Udang :
Segala macam jenis tepung udang kering dapat digunakan untuk komponen pembuatan pakan ikan.
- Minyak Ikan :
Gunakan minyak ikan yang masih baik, yaitu berbau khas minyak ikan (amis & tidak tengik) dan selaput pembungkusnya tidak rusak.

- Sumber Mineral dan Vitamin :
Ada bermacam – macam sumber mineral dan vitamin yang dijual di pasaran antara lain aquamik, premik, garam mineral, vitamin C, vitamin B kompleks dan lain – lain.

Cara Meramu dan Mencampur Bahan :
Bahan pakan berupa dedak halus (kandungan protein 10% - 16%) dan tepung ikan (50% - 60%). Jika rerata kadar protein bekatul dan tepung ikan adalah 13% dan 55%, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
a. Protein Basal Bekatul (dedak halus) : 13%
b. Protein Suplemen (tepung ikan) : 55%
c. Protein pakan yang dikehendaki : 25%
Jumlah bekatul dan tepung ikan yang dibutuhkan dihitung menurut selisih persentase kandungan (kadar) protein yang dikehendaki.

Formulasi Ransum Pellet buatan Pabrik
Bahan : Kosentrasi (%) , Takaran (Kg/lt)
1. Bekatul/dedak halus : 50% , 50 kg
2. Tepung Ikan : 10% , 10 kg
3. Bungkil Kedelai : 10% , 10 kg
4. Tepung Jagung : 25% , 25 kg
5. Tepung Kepala Udang : 5% , 5 kg
6. Minyak Ikan : - , 0.05 liter
7. Garam mineral : - , 0.05 kg
8. Kalsidol + Vit A : - , 0.05 kg

Analisa Ekonomis Formulasi Pelet Sederhana
100 kg bekatul : Rp.120.000
100 kg ikan rucah : Rp.150.000
1 bungkus perekat : Rp.15.000
Vitamin : Rp.17.000
Petis ikan/minyak ikan : Rp. 7.500
Tenaga Kerja : Rp.105.000
Bensin : Rp. 5.000
JUMLAH : Rp 420.000
Perbandingan antara Formula Pabrik dg pakan buatan sederhana
Pakan Pabrik vs Pakan Buatan sendiri
Padat Tebar = 15.000 ekor : 15.000 ekor
Waktu Pemeliharaan = 60 hari : 67 hari
Jumlah Pakan = 1.200 kg : 1.500 kg
Biaya = Rp 8.040.000 : Rp 5.040.000
Hasil Panen = 1.000 kg : 1.000 kg
Selisih : Rp 3.000.000

sumber:

Selasa, 22 Oktober 2013

Hama dan Penyakit Ikan Lele Serta Pengendaliannya



Hama dan penyakit pada budidaya lele menjadi salah faktor penentu keberhasilan bisnis ini. Menanggulangi penyakit lele merupakan salah satu upaya mekmaksimalkan budidaya lele. Meski pengetahuan dan cara menanggulangi penyakit pada budidaya lele cukup penting terkadang diabaikan oleh peternak lele, apalagi jika usaha lele ini hanya menjadi usaha sampingan atau bisnis skala usaha kecil.
Banyak kejadian lele tiba-tiba mati mendadak dalam jumlah besar atau satu per satu mati dan akhirnya tidak bisa panen. Pertanyaan dan keluhan mengenai cara mengatasi penyakit pada ikan lele cukup sering kita dengar sehingga penting bagi para pembudidaya lele untuk memiliki pengetahuan di dalam hal ini.
Hama ikan Lele ukuran besar nampak secara kasat mata misalnya kucing, ular,Linsang. Untuk lele bibit di sawah hama lele bisa datang dari kodok, Ucrit dan burung pemakan ikan dan hewan-hewan lain. Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata.
Penyakit pada ikan lele cukup beragam dan memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit apa yang menimpa ikan lele peliharaan kita, bisa dilihat dari gejala-gejala luar ikan lele. Meski lele termasuk ikan yang tahan hidup dalam air yang berkualitas buruk, tetapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.
Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat parasit yang hidup pada tubuh ikan lele, mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Beberapa penyebab penyakit pada ikan lele antara lain:

1.      Penyakit karena Bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejala Lele Terserang Bakteri ini : warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2.      Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3.      Penyakit karena Jamur/Cendawan Saprolegnia.
Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4.      Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala:
1)  ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air
2)   terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
4)  Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5.      Penyakit cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian:
 1)   direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
 2)   Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
 3)   Menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
 4)   memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
 5)   dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
 
6.      Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian: Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.
Penyakit yang menimpa ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, kepadatan tebar yang terlalu besar dan perubahan suhu yang drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit. Penyakit pada lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele. Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam karantina yang diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan tersebut.