بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Selasa, 12 November 2013

PAKAN IKAN SEDERHANA


Pakan buatan bagi ikan dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan ikan dan diberikan untuk menyuplai makanan pada kolam dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya yang telah menipis atau habis sama sekali. Pakan merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam suatu usaha budidaya ikan, karena merupakan penyumbang biaya produksi yang paling besar dibandingkan parameter lainnya.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Untuk dapat tumbuh dengan baik, ikan pada umumnya membutuhkan nutrien/gizi yang lengkap. Aspek kebutuhan gizi pada ikan adalah sama dengan makhluk hidup lain, yaitu : protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral agar dapat melakukan proses fisiologi dan biokimia selama hidupnya.
Jenis bahan baku pakan ikan yang biasa digunakan :
- Bekatul / Dedak Halus :
Bekatul mudah diperoleh dari tempat penggilingan padi dan harganya relatif murah. Bahan yang dipilih harus mempunyai tekstur yang halus, tidak berbau apek dan memiliki warna yang segar, sehingga bila digenggam terasa lembut dan gumpalan yang terbentuk setelah digenggam mudah pecah. Bekatul segar berbau mirip beras (tidak tercium bau apek)

- Tepung Ikan :
Tepung ikan harus berkualitas baik, bila diamati berwarna kuning kecoklatan, bersih tidak tercampur dengan kotoran lain, berbau khas seperti ikan kering tidak tengik ataupun asam. Ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting) dan sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan. Penggunaan tepung ikan didalam pakan komersial biasanya berkisar antara 10 – 40 %

- Bungkil Kedelai :
Bungkil kedelai atau ampas tahu yang berada di pasaran biasanya masih basah atau setengah basah, oleh karena itu harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur. Bungkil kedelai digunakan sebagai pengganti tepung kedelai yang merupakan sumber protein nabati, tepung kedelai memiliki profil asam amino terbaik. Penggunaannya didalam pakan komersial berkisar antara 10–25%.
Tepung Kepala Udang :
Segala macam jenis tepung udang kering dapat digunakan untuk komponen pembuatan pakan ikan.
- Minyak Ikan :
Gunakan minyak ikan yang masih baik, yaitu berbau khas minyak ikan (amis & tidak tengik) dan selaput pembungkusnya tidak rusak.

- Sumber Mineral dan Vitamin :
Ada bermacam – macam sumber mineral dan vitamin yang dijual di pasaran antara lain aquamik, premik, garam mineral, vitamin C, vitamin B kompleks dan lain – lain.

Cara Meramu dan Mencampur Bahan :
Bahan pakan berupa dedak halus (kandungan protein 10% - 16%) dan tepung ikan (50% - 60%). Jika rerata kadar protein bekatul dan tepung ikan adalah 13% dan 55%, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
a. Protein Basal Bekatul (dedak halus) : 13%
b. Protein Suplemen (tepung ikan) : 55%
c. Protein pakan yang dikehendaki : 25%
Jumlah bekatul dan tepung ikan yang dibutuhkan dihitung menurut selisih persentase kandungan (kadar) protein yang dikehendaki.

Formulasi Ransum Pellet buatan Pabrik
Bahan : Kosentrasi (%) , Takaran (Kg/lt)
1. Bekatul/dedak halus : 50% , 50 kg
2. Tepung Ikan : 10% , 10 kg
3. Bungkil Kedelai : 10% , 10 kg
4. Tepung Jagung : 25% , 25 kg
5. Tepung Kepala Udang : 5% , 5 kg
6. Minyak Ikan : - , 0.05 liter
7. Garam mineral : - , 0.05 kg
8. Kalsidol + Vit A : - , 0.05 kg

Analisa Ekonomis Formulasi Pelet Sederhana
100 kg bekatul : Rp.120.000
100 kg ikan rucah : Rp.150.000
1 bungkus perekat : Rp.15.000
Vitamin : Rp.17.000
Petis ikan/minyak ikan : Rp. 7.500
Tenaga Kerja : Rp.105.000
Bensin : Rp. 5.000
JUMLAH : Rp 420.000
Perbandingan antara Formula Pabrik dg pakan buatan sederhana
Pakan Pabrik vs Pakan Buatan sendiri
Padat Tebar = 15.000 ekor : 15.000 ekor
Waktu Pemeliharaan = 60 hari : 67 hari
Jumlah Pakan = 1.200 kg : 1.500 kg
Biaya = Rp 8.040.000 : Rp 5.040.000
Hasil Panen = 1.000 kg : 1.000 kg
Selisih : Rp 3.000.000

sumber:

Selasa, 22 Oktober 2013

Hama dan Penyakit Ikan Lele Serta Pengendaliannya



Hama dan penyakit pada budidaya lele menjadi salah faktor penentu keberhasilan bisnis ini. Menanggulangi penyakit lele merupakan salah satu upaya mekmaksimalkan budidaya lele. Meski pengetahuan dan cara menanggulangi penyakit pada budidaya lele cukup penting terkadang diabaikan oleh peternak lele, apalagi jika usaha lele ini hanya menjadi usaha sampingan atau bisnis skala usaha kecil.
Banyak kejadian lele tiba-tiba mati mendadak dalam jumlah besar atau satu per satu mati dan akhirnya tidak bisa panen. Pertanyaan dan keluhan mengenai cara mengatasi penyakit pada ikan lele cukup sering kita dengar sehingga penting bagi para pembudidaya lele untuk memiliki pengetahuan di dalam hal ini.
Hama ikan Lele ukuran besar nampak secara kasat mata misalnya kucing, ular,Linsang. Untuk lele bibit di sawah hama lele bisa datang dari kodok, Ucrit dan burung pemakan ikan dan hewan-hewan lain. Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata.
Penyakit pada ikan lele cukup beragam dan memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung jenis penyakitnya. Untuk mengetahui jenis penyakit apa yang menimpa ikan lele peliharaan kita, bisa dilihat dari gejala-gejala luar ikan lele. Meski lele termasuk ikan yang tahan hidup dalam air yang berkualitas buruk, tetapi sanitasi air memegang peranan penting dalam menunjang kesehatan lele.
Penyakit pada ikan lele biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat parasit yang hidup pada tubuh ikan lele, mikroorganisme ini biasanya berupa virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Beberapa penyebab penyakit pada ikan lele antara lain:

1.      Penyakit karena Bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejala Lele Terserang Bakteri ini : warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2.      Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3.      Penyakit karena Jamur/Cendawan Saprolegnia.
Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.

4.      Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala:
1)  ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air
2)   terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
4)  Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.

Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5.      Penyakit cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian:
 1)   direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
 2)   Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
 3)   Menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
 4)   memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
 5)   dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
 
6.      Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian: Selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah.
Penyakit yang menimpa ikan lele biasanya terjadi karena lingkungan air yang tidak baik, misalnya tercemar oleh zat-zat berbahaya, kepadatan tebar yang terlalu besar dan perubahan suhu yang drastis. Pada kondisi demikian daya tahan ikan lele menurun dan mudah terserang penyakit. Penyakit pada lele bisa juga berasal dari bibit lele sudah membawa penyakit dari asalnya, hanya belum menunjukkan gejala sakit saat ditebar. Untuk itu perlu berhati-hati dalam memilih bibit lele. Cara lain mengatasi penyakit ikan lele adalah mengkarantina ikan lele sakit pada kolam karantina yang diberi garam ikan, selain dengan pengobatan-pengobatan tersebut.