بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Rabu, 29 April 2015

CSR PT PERTAMINA (Persero) Melalui TBBM Tasikmalaya Tingkatkan Wirausaha dan Budidaya Ikan Di RING I


Tasikmalaya - Corporate Social Respon­sibility (CSR) merupa­kan ko­mitmen perusahaan untuk ber­kontribusi da­lam pemba­ngu­nan ekonomi berkelan­ju­tan. Melalui penerapan CSR yang tepat dan jelas, perusa­haan akan mampu membe­rikan sum­bangan yang berarti bagi kepentingan masyarakat, sekaligus kepentingan perusa­haan dalam upaya membentuk citra yang baik dimata masya­ra­kat.
    Pelaksanaan CSR di­awali dengan suatu perusa­haan yang dituntut untuk me­miliki rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan ling­kungan sekeliling­nya. Program CSR yang dikelola dan dikomuni­kasikan dengan baik akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan juga meningkatkan reputasi perusahaan.
CSR penting, karena mem­bangun ikatan emo­sional masyarakat dengan perusa­haan. Tidak hanya hubungan industrialis, tapi juga hubu­ngan antar manusia. Citra dari perusahaan akan lebih mudah terjaga, ketika banyak pihak memiliki keterikatan emosi yang positif dengan perusa­haan.
    Dengan kata lain, CSR adalah pengintegrasian kepe­dulian terhadap masalah sosial dan lingkungan hidup ke da­lam operasi bisnis perusahaan dan interaksi sukarela antara perusahaan dan para stakeholder-nya.
Seperti yang dilakukan PT Per­tamina (Persero) melalui TBBM Tasikmalaya, peran CSR yang disalurkannya se­ba­gai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan­nya, dalam upaya menjalin hubungan dan kerjasama yang baik, antara perusahaan de­ngan publik terutama masya­rakat di sekitar area operasi perusahaan seba­gai stakeholders penting guna mendapat­kan citra yang posi­tif bagi peru­sahaan.
    Melalui program CSRnya PT Pertamina yang diwakili oleh Operation Head TBBM Tasikmalaya Lambok Tambunan telah menyalurkan bantuan untuk kelompok pembudidaya ikan lele “Juragan Lele Tasik” yang berada di seputaran Ring I TBBM Tasikmalaya yaitu Desa Sukanagara Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya , Kegiatan budi daya ikan lele ini merupakan program CSR PT. Pertamina (Persero) dalam membina masyarakat agar mandiri dalam berwirausaha, Melalui program pembudidayaan ikan lele ini, Pertamina memberikan bantuan berupa benih, pakan, sarana untuk kolam seperti terpal serta pelatihan. Bahkan pendampingan untuk pemasaran dan penguatan manajemen kelompok
    Sementara itu, Danu, mewakili kelompok binaan mengatakan bahwa program CSR dari Pertamina ini sangat bermanfaat dan membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomian warga. Danu beralasan, pelaksanaan pemeliharaan ikan lele ini bisa bisa dilakukan kapan saja, sehingga ia dan kelompoknya tidak perlu meninggalkan pekerjaan utama mereka. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan :
1.      dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas,
2.      teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat,
3.      pemasarannya relatif mudah  
4.      modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah
   Harmonisasi antara PT Per­tamina (Persero) TBBM Tasikmalaya de­ngan masyarakat, terutama ya­ng berada di area terdekat peru­sahaan selama ini pembi­naannya sangat baik. Untuk itu, diperlukan pemberian kon­tribusi positif yang dapat membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat ke arah yang jauh lebih baik lagi dima­sa-masa yang akan da­tang.

Jumat, 20 Maret 2015

Menteri Susi: Ikan yang Kita Makan, 80 Persen Komponennya Impor

AKARTA – Ikan sebagai hasil kekayaan laut Indonesia merupakan salah satu sumber protein hewani yang seharusnya melimpah. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menegaskan dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan atau laut. Namun, Susi menyayangkan, Indonesia yang memiliki panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia, tidak mampu menyediakan sumber protein mandiri.
Kegiatan perikanan tangkap terkendala illegal fishing, sementara kegiatan perikanan budidaya juga terbilang belum mandiri. “80 persen dari pakan ikan itu, fish meal-nya adalah impor,” kata Susi, Senin (8/12/2014).
Bahkan nilai, impor pakan ikan pada bulan terakhir mencapai Rp 79 triliun. Susi menaksir, pada bulan ini nilai impor pakan ikan akan makin tinggi, lantaran nilai tukar rupiah makin melemah.
Kondisi ini sangat disayangkan oleh Susi. Dia pun berharap ke depan, Indonesia bisa menekan impor pakan ikan untuk perikanan budidaya.
“Kita jangan sampai dengan laut yang dua pertiga persen dari wilayah kita ini, bukan menjadi swasembada. Tetapi, ikan yang kita makan pun 80 persen komponennya impor. Jadi, barangkali tidak banyak orang sadar, lele, mujair, yang kita makan itu, pakannya impor,” kata Susi.


Sumber : Kompas.com

Jenis Pakan Lele dan Aturan Pemberian Yang Benar

Dalam ternal lele, sudah merupakan hal yang wajib untuk mengerti dan memahami jenis pakan lele yang beredar di pasaran. Pakan merupakan hal terpenting dalam hal budidaya ikan lele dan ternak apapun itu. Jika kita sembrono dalam pemberian pakan yang baik bagi lele, kita tidak akan mencapai target produksi yang kita inginkan, meskipun benih yang kita ternak adalah benih lele kualitas super maupun lele konsumsi. Disamping pemilihan lokasi budidaya dan kondisi air, pakan adalah faktor penentu utama dalam pertumbuhan ikan lele. Pakan lele yang baik yang dibarengi dengan frekuensi aturan pemberian pakan yang tepat akan sangat menguntungkan bagi siapapun yang membudidayakan. Untuk itu, akan kami jelaskan beberapa jenis pakan lele yang banyak digunakan oleh para pembudidaya.

Jenis Pakan Lele

  • Pelet - Jenis pakan pertama dan paling banyak digunakan adalah pakan berbentuk pelet. Pelet adalah pakan buatan yang diproduksi oleh pabrik. Dan komposisinya mengandung campuran dari berbagai macam tepung (terigu, ikan, tulang, daging) bungkil kedelai dan kelapa, mineral, dedak, minyak dan tambahan macam - macam vitamin yang dibutuhkan ikan lele. Ada dua jenis pelet yang beredar di pasaran dan sudah dikenal luas oleh masyarakat, yaitu pelet apung dan pelet tenggelam. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda namun sangat disukai lele. Banyak perusahaan pertanian di Indonesia yang memproduksi pelet ikan lele. Kita dituntut untuk lebih selektif dalam memilih pelet yang paling cocok untuk budidaya ikan lele milik kita sendiri. Pelet yang diberikan haruslah mengandung protein yang tinggi. Biasanya pelet apung mengandung lebih banyak protein daripada pelet tenggelam. Nah, itulah mengapa dalam budidaya ikan lele pelet tenggelam hanya diberikan menjelang akhir masa panen.
  • Pakan Tambahan - Pakan jenis ini banyak digunakan untuk pembesaran dan meminimalisir biaya produksi. Pakan tambahan tidak disarankan untuk diberikan terlalu banyak. Pakan tambahan diberikan paling tidak sepuluh hari menjelang masa panen. Dengan memberikan pakan tambahan, banyak peternak lele berpengalaman yang mengurangi takaran pelet tenggelam di pekan terakhir saat panen. Adapun jenis pakan tambahan sangat bervariasi, itu juga tergantung pada sulit tidak nya pakan tersebut didapatkan oleh peternak lele. Pakan tambahan yang sering digunakan oleh para peternak adalah ayam tiren, ikan runcah dll. Hal yang terpenting adalah pakan tersebut tetap memiliki kandungan protein yang tinggi dan memiliki gizi yang cukup sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan ikan lele. Namun kita juga tidak boleh lupa mengenai kebersihan pakan. Pakan tambahan juga banyak mengandung penyakit, sehingga wajib untuk dibersihkan terlebih dahulu.
  • Pakan Alami - Pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam yang mengandung banyak protein tinggi. Sangat sesuai untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele. Berbagai jenis pakan alami lele antara lain cacing sutera. Cacing sutera sangat cocok untuk lele dalam proses pembenihan.Sangat baik untuk digunakan sebagai pakan lele / benih lele umur 4 hari sampai 13 hari. Sedangakan pakan alami yang lain yang dapat diberikan adalah plankton, uget-uget/cuk, kutu air dan mikroorganisme lain yang dapat hidup dan berkembang di dalam media kolam lele. Karena pertumbuhan mikroorganisme ini tidaklah mudah, maka perlu dilakukan pengomposan/kultur pada kolam perawatan benih tujuannya adalah agar pembesaran agar pertumbuhan mikroorganisme tersebut bisa lebih banyak. Sebaiknya kita tidak mengganti air kolam hingga saat panen selesai, kecuali terjadi hal-hal yang mutlak diperlukan seperti jika air mengandung racun atau zat berbahaya bagi ikan. 

Aturan Pemberian Pakan Lele

  • Pakan Apung
    1. Kita semprotkan sedikit air ke dalam pakan, cukup sampai basah dan tidak becek. Setelah itu kita aduk merata dan kita biarkan sekitar 20 menit sampai pakan menjadi agak kenyal dan siap tebar.
    2. Kita tebar pakan secara merata di media ikan lele sedikit demi sedikit sehingga kita dapat mengetahui seberapa cepat lele menghabiskan pakana tersebut.
    3. Kita tebar terus pelet hingga ikan lele kenyang
    4. Kita hentikan pemberian pakan jika ikan terlihat melambat dan terlihat kenyang.
  • Pakan Tenggelam
    1. Pakan tidak perlu kita basahi
    2. Kita sebarkan pakan di satu titik hingga ikan kenyang dan kita hentikan saat ikan terlihat lambat saat makan.

Waktu Pemberian Pakan

  • Pemberian pakan yang benar dan disarankan adalah 3 sampai 6 kali sehari
    1. 3x sehari yaitu pukul : 09:00, 16:00, 21:00
    2. 4x sehari yaitu pukul : 09.00, 13.00, 17.00, 21.00
    3. 6x sehari yaitu pukul : 09.00, 12.00, 15.00, 17.00, 19.00, 21.00
    4. Pemilihan jam terserah pada kita, namun setelah kita memilih salah satu, sebaiknya kita konsisten untuk menggunakan pilihan tersebut seterusnya.

Larangan Dalam Pemberian Pakan

  • Jangan terlalu banyak memberikan pakan. Pakan yang tersisa akan menyatu dengan air menjadi amoniak dan dapat meracuni lele.
  • Jangan mengobok - obok kolam saat lele makan atau sesaat setelah ikan lele menghabiskan makanannya. Lele yang stress akan memuntahkan kembali pakan dan menjadi amoniak di media kolam.
  • Jangan memberi makan lele saat hujan.
  • Jangan memberi makan pada pagi sekali karena insang rawan terkena radang jika terlalu pagi.
Demikian jenis pakan lele dan aturan pemberian pakan yang benar (menurut saya). Terakhir, untuk sukses ternak lele sebenarnya kuncinya adalah pakan. Dengan memperhatikan pola makan yang benar maka ikan lele akan selalu sehat dan dapat tumbuh sesuai dengan keinginan kita. Namun sebaliknya, jika kita meremehkan pola pemberian pakan, maka kita juga akan merasakan akibatnya. Walaupun lele tergolong ikan yang kuat bertahan di berbagai media dan pakan, jika kita lalai akan merugikan kita sendiri, terutama bagi anda yang sedang getol budidaya ikan lele untuk konsumsi maupun pembenihan.

PRIMADONA BARU TASIK ITU BERNAMA LELE






Lele tergolong ikan yang sangat populer dan mudah dibudidayakan petani. Bisnis lele dari tahun ke tahun masih terbuka, mengingat permintaan akan kebutuhan ikan ini semakin meningkat.
Bisnis ini juga merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, mengingat lele sangat mudah dibudidayakan karena tahan terhadap lingkungan yang buruk sekalipun. Ikan ini juga cepat besar, harganya stabil, namun tetap terjangkau masyarakat sehingga sering menjadi pilihan masyarakat berbagai kalangan.
Ikan ini menjadi primadona baru bagi para petani terlihat dari pangsa pasar yang masih memiliki prospek pada tahun naga air ini. Petani ikan lele di Kota Tasikmalaya kewalahan memenuhi permintaan pembeli dari luar kota.
Bayangkan saja, untuk daerah Lamongan saja, pesanan dari Gabungan Pecel Lele Lawongan, tidak kurang dari 1,4 ton per hari. Sementara pasar Jakarta, permintaan dari para pengusaha menembus 10 ton per bulan.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya, Hj. Eli Suminar didampingi Staf Teknis Bina Usaha, Arsim menjelaskan, pasar lele sangat terbuka luas, sehingga usaha pembudidayaan ikan ini dari segi prospek cukup menjanjikan.“Asal orang telaten saja, pasti hasilnya memuaskan. Apalagi kami di dinas akan terus membimbing petani ikan ini,” katanya.
Pada masa mendatang, kata Eli, dinas memiliki obsesi membentuk kampung ikan, di beberapa daerah yang mempunyai potensi kolam, dibina untuk membudidayakan ikan.
Saat ini dinas fokus terhadap pembudidayaan lele. Kelak Pemkot Tasikmalaya memiliki kampung-kampung lele yang tersebar merata. Sekarang yang sudah terwujud di Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi, Ciakarwuluh Kecamatan Cibeureum, Sukamajukidul Kecamatan Indihiang, Sukaasih Kecamatan Purbaratu, dan Sukamanah Kecamatan Cipedes.
“Di lokasi itu sudah terbentuk pokdatan. Warga yang memiliki kolam ikan, memelihara lele bantuan dari pusat sehingga kami punya keinginan di daerah itu menjadi kampung lele,”kata dia.



sumber : http://www.kabar-priangan.com/

Kamis, 19 Maret 2015

Pompa Air Tanpa Listrik & Tanpa Bahan Bakar

Kemaren ada bapak petani lele yang nanya mas tau cara bikin pompa yang tanpa listrik dan tanpa bahan bakar gak? Kan klo kita bisa buat yang seperti itu nantinya akan menghemat biaya produksi. Maksud bapak itu adalah untuk mengisi kolam ikan lelenya agar tidak menggunakan pompa listrik yang notabene bisa menghemat tagihan listriknya. Nah berangkat dari situ saya pun mencari perihal pompa tersebut, anda penasaran kan? Pompa tersebut namanya "Hydraulic Ramp Pump", ini sebenarnya adalah teknologi lama yang sudah banyak digunakan di daerah-daerah pelosok di Indonesia. Hydram adalah salah satu jenis pompa air yang bekerja tidak menggunakan tenaga listrik atau bahan bakar (bensin atau minyak diesel), tetapi hydram dapat bekerja karena dijalankan oleh tenaga air itu sendiri, dengan memanfaatkan sejumlah besar tenaga aliran air akan bekerja menaikkan air ke tempat yang lebih tinggi. Prinsip kerja hydram adalah proses perubahan energi kinetik aliran air menjadi tekanan dinamik dan sebagai akibatnya menimbulkan palu air (water hammer) sehingga terjadi tekanan tinggi dalam pipa.
Dengan mengusahakan supaya katup limbah (waste valve) dan katup pengantar (delivery valve), terbuka dan tertutup secara bergantian, maka tekanan dinamik diteruskan sehingga air naik ke pipa pengantar keluar (outlet).
Bila ke dua katup tersebut bekerja efektif dan lancar, maka keluaran air terjadi terus menerus tanpa henti.

Berikut adalah video prinsip kerja hydram.

Anda tertarik untuk membuatnya? Semua peralatan dan bahan ada dan mudah diperoleh disekitar kita. Simak saja di Cara Membuat Pompa Hydram.

Rabu, 12 Maret 2014

Batam Dibanjiri Ikan Lele Asal Malaysia





Batam - Pengusaha ikan mengeluhkan ikan lele impor yang membanjiri pasar-pasar di Batam dan Kepulauan Riau. Ray S. Stefan, pengusaha ikan lele, mengatakan dari kebutuhan 10 ribu ton ikan lele setiap bulan, sebanyak 75 persen didatangkan dari Malaysia.

"Banyak pengusaha ikan lele (lokal) terancam gulung tikar," kata Stefan kepada Tempo, Selasa, 18 September 2012. Menurut dia, harga ikan lele impor lebih murah dibandingkan dengan produk lokal. Lele asal Malaysia dijual Rp 14.000 per kilogram, sedangkan harga pasaran lele lokal mencapai Rp 18.000 per kilogram.

Murahnya lele impor tersebut, kata Stefan, tak lepas dari permainan tengkulak yang bekerja sama dengan petambak di Malaysia. Lele impor sengaja dijual murah agar kelak bila telah menguasai pasar dan semua petambak lele lokal tutup, harga dapat dikendalikan Malaysia.

Anjloknya harga ikan lele telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Stefan mengatakan dulu ketika impor ikan lele dilarang, peternak ikan lele di Batam bergairah dan memberi peluang kepada masyarakat untuk berternak ikan lele. Oleh sebab itu, banyak orang beralih profesi menjadi peternak ikan lele karena prospeknya bagus.

Menurut Stefan, di Batam terdapat 600 peternak ikan lele dan tak kurang dari 4.000 kolam ternak lele. Selama ini produksi ikan lele di Batam mampu dipenuhi peternak lokal. Itu karena ikan lele mudah diternak.  Produk peternak lele di Batam mampu memenuhi kebutuhan tidak hanya Batam, tapi juga Kota Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun. "Jadi tidak perlu impor jika kita bisa peroleh dari daerah terdekat," katanya.

Kartono, seorang peternak ikan lele, mengatakan cara pedagang asing memberangus usaha anak negeri bisa beragam cara, termasuk dengan menjual produk mereka lebih murah. Di masa datang, karena ketergantungan, maka harga dinaikkan sekehendak hati mereka. "Jadi waspadai cara seperti ini," katanya.

Kepala Karantina Ikan, Ashari Syarif, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti keluhan peternak lele. Sebab, hal ini sesuai dengan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/2012 memberlakukan pembatasan impor ikan. Surat Menteri Kelautan ini kemudian diperkuat oleh Peraturan Direktorat Jenderal Kelautan dan Perikanan Nomor 231/2011 yang mengatur jenis-jenis ikan yang diijinkan masuk Batam, termasuk ikan lele. "Ini bahan masukan bagi kami," kata Ashari Syarif.

Syarif menyatakan pihaknya angkat tangan bila ikan lele yang membanjiri pasar di Batam ternyata masuk melalui jalur ilegal. "Larangan impor ikan lele belum dicabut," katanya.

sumber : tempo.co

Ketika Makanan Rakyat Pun Harus Impor (Red:Lele) dari Malaysia

Problem terbesar bagi petani lele adalah harga pakan yang mahal dan harga jual yang murah.

Asep tidak bisa terima dengan kebijakan pemerintah mengimpor lele dari Malaysia. Meski impor itu ditujukan untuk kawasan Kepulauan Riau, sementara Asep berdomisili di Parung, Jawa Barat, dia tetap merasa jengkel dan marah ketika mendengar berita bahwa impor lele dari Malaysia sekitar 60 ton per tahun.
Berita itu dia ketahui dari media massa yang mengungkapkan impor ikan lele dilakukan, karena harga lele yang dipasok dari Pulau Jawa ke Provinsi Kepulauan Riau lebih mahal dibandingkan dengan pasokan dari Malaysia.
Ini seperti yang diungkapkan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Djasarmen Purba, berdasarkan temuan hasil kunjungan kerja Komite II DPD ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau beberapa waktu lalu.
"Kenapa nggak memberdayakan petani dalam negeri saja? Itu kan sama saja membunuh petani lele," ujar Asep (34) kepada SH, Jumat (7/9). Siang yang panas tidak dihiraukannya. Pria yang masih hidup membujang ini tetap meladeni pertanyaan SH sambil menyablon baju kaus pesanan.
Gelar sarjana komunikasi ditinggalkannya karena dia kini lebih tertarik dengan dunia bisnis. Namun di saat musim kemarau macam sekarang, bisnis perikanan ditinggalkannya untuk sementara waktu dan beralih menjadi penyablon baju kaus, poster, dan lain-lain. Sementara petani-petani ikan lain di kawasan Parung yang kurang berpendidikan kebanyakan beralih pekerjaan menjadi kuli proyek.
Para petani kecil dan sarjana seperti Asep akan kembali menjadi petani ikan setelah hujan mulai membasahi lahan mereka di Desa Poktua, Kecamatan Kemang, Parung, Bogor, Jawa Barat. Asep memilih menjadi petani ikan khususnya lele, karena pada awalnya mengira penghasilannya besar.
Sebelumnya ketika sedang survei untuk memulai usaha secara mandiri, dia melihat banyak orang yang memelihara lele dan banyak pula warung pecel lele di pinggir jalan, malah ada pula rumah makan lele yang laris manis.
Dia juga memilih lokasi usaha di Parung karena Parung menjadi daerah sentra produksi berbagai jenis ikan, seperti lele, gurami, nila, mas, dan patin. Untuk lele saja, di seluruh Parung bisa menyediakan sekitar 5 ton lele per hari. Angka 5 ton itu diperoleh SH dari Acong, pedagang pengumpul ikan di Parung. Di dunia perikanan dikenal istilah petani ikan, lalu pedagang perantara, serta pedagang pengumpul.
Petani biasanya menjual ikan hasil produksinya kepada pedagang perantara atau ada yang menyebutnya tengkulak.
Kemudian pedagang perantara menjualnya lagi ke pedagang pengumpul atau pengepul semacam Acong. Asep tak tahu apakah lele hasil produksinya termasuk yang akhirnya dibeli oleh Acong. "Saya hanya tahu lele saya dibeli murah oleh tengkulak," ujar Asep sambil mengusap wajahnya.
Banyak Kendala
Setelah menjalani pekerjaan sebagai petani lele, ternyata antara teori yang dipelajarinya dari buku-buku dan belajar secara langsung dari petani ikan dengan kenyataan jauh berbeda.
Secara teori, lele memang sudah bisa dipanen setelah umurnya 60 hari. Tapi ternyata harga pakannya mahal. Untuk 1 kilogram pelet harganya sudah sekitar Rp 7.000.
Asep memang sudah mencoba mengganti pelet dengan pakan alternatif, seperti usus ayam yang harganya hanya Rp 2.000 per kilogram, serta nasi sisa atau nasi bekas dari restoran-restoran yang bisa diperoleh secara gratis.
Tapi nyatanya dengan pakan alternatif itu, saat ditimbang berat badan lele lebih ringan dibandingkan dengan jika makan pelet. Selisihnya bisa sekitar 30 persen.
Problem lain muncul kalau terlambat memberi makan lele. Karena jika kelaparan lele yang kecil akan dimakan oleh lele yang besar. Ini sesuai dengan sifat lele yang kanibal. Persoalan masih bertambah, karena harga jual lele murah. Satu kilogram lele dijual Rp 12.000, berisi 7-8 ekor. Ini sangat tidak sesuai dengan FCR ikan lele.
Menurut Asep, FCR atau Food Coeficient Ratio adalah perbandingan antara 1 kilogram pakan dengan 1 kilogram daging lele adalah 2:1.
"Makanya nggak akan bisa untung, karena 2 kilogram pakan hanya menghasilkan 1 kilogram daging. Kalau 1 kilogram pakan harganya Rp 7.000 maka untuk 2 kilogram harganya Rp 14.000, padahal ini hanya menghasilkan 1 kilogram daging yang harganya cuma Rp 12.000. Lha mana bisa untung?!" ujarnya.
Belum lagi ongkos tenaga kerja, harga obat-obatan untuk lele, dan ongkos pemeliharaan kolam misalnya galengan jebol, pipa pralon pecah, dan menggali tanah untuk memperdalam kolam ikan setiap kali setelah panen. "Apalagi saat ini tak ada air, gimana lele bisa hidup?" Asep menambahkan.
Matanya menerawang ke langit saat mengatakan, "Kekeringan kan tidak hanya sekali ini terjadi tapi sudah berkali-kali. Kenapa pemerintah tidak juga memperbaiki saluran irigasi?"
“Coba saja lihat, kalau irigasi lancar dan harga pakan murah, pasti pemerintah tak perlu impor lele. Lha kalau pemerintah impor lele, bagaimana saya bisa jualan?” sambung Asep.
Setahu Asep, berdasarkan berita yang dia dapat dari media massa, harga impor lele lebih murah daripada harga lokal. Ini dinilainya menunjukkan ketidakpedulian pemerintah terhadap masyarakat. Pemerintah tidak pro rakyat tapi pro importir.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan mahalnya ikan di beberapa wilayah disebabkan oleh masalah distribusi dan beberapa wilayah tidak cocok untuk budi daya ikan termasuk lele.
Kata menteri, pihaknya baru saja menghentikan kegiatan impor empat perusahan di Jakarta karena telah memasukkan lele konsumsi dari luar negeri.
Petani terpelajar seperti Asep tak mau tahu apakah pemerintah serius menghentikan impor lele. Yang dia tahu, ia dan para petani ikan lainnya semakin hidup kembang-kempis. Kalau kendala yang dia hadapi dibiarkan terus terjadi maka petani ikan bisa jadi tidak mau memproduksi lele lagi.
Sementara mencari pekerjaan lain sebagai gantinya tidaklah mudah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana akibatnya nanti. Jangan sampai kejahatan merajalela, karena desakan kebutuhan perut tak bisa ditahan-tahan.

Sumber : Sinar Harapan

Selasa, 12 November 2013

PAKAN IKAN SEDERHANA


Pakan buatan bagi ikan dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan ikan dan diberikan untuk menyuplai makanan pada kolam dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya yang telah menipis atau habis sama sekali. Pakan merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam suatu usaha budidaya ikan, karena merupakan penyumbang biaya produksi yang paling besar dibandingkan parameter lainnya.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Untuk dapat tumbuh dengan baik, ikan pada umumnya membutuhkan nutrien/gizi yang lengkap. Aspek kebutuhan gizi pada ikan adalah sama dengan makhluk hidup lain, yaitu : protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral agar dapat melakukan proses fisiologi dan biokimia selama hidupnya.
Jenis bahan baku pakan ikan yang biasa digunakan :
- Bekatul / Dedak Halus :
Bekatul mudah diperoleh dari tempat penggilingan padi dan harganya relatif murah. Bahan yang dipilih harus mempunyai tekstur yang halus, tidak berbau apek dan memiliki warna yang segar, sehingga bila digenggam terasa lembut dan gumpalan yang terbentuk setelah digenggam mudah pecah. Bekatul segar berbau mirip beras (tidak tercium bau apek)

- Tepung Ikan :
Tepung ikan harus berkualitas baik, bila diamati berwarna kuning kecoklatan, bersih tidak tercampur dengan kotoran lain, berbau khas seperti ikan kering tidak tengik ataupun asam. Ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting) dan sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan. Penggunaan tepung ikan didalam pakan komersial biasanya berkisar antara 10 – 40 %

- Bungkil Kedelai :
Bungkil kedelai atau ampas tahu yang berada di pasaran biasanya masih basah atau setengah basah, oleh karena itu harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur. Bungkil kedelai digunakan sebagai pengganti tepung kedelai yang merupakan sumber protein nabati, tepung kedelai memiliki profil asam amino terbaik. Penggunaannya didalam pakan komersial berkisar antara 10–25%.
Tepung Kepala Udang :
Segala macam jenis tepung udang kering dapat digunakan untuk komponen pembuatan pakan ikan.
- Minyak Ikan :
Gunakan minyak ikan yang masih baik, yaitu berbau khas minyak ikan (amis & tidak tengik) dan selaput pembungkusnya tidak rusak.

- Sumber Mineral dan Vitamin :
Ada bermacam – macam sumber mineral dan vitamin yang dijual di pasaran antara lain aquamik, premik, garam mineral, vitamin C, vitamin B kompleks dan lain – lain.

Cara Meramu dan Mencampur Bahan :
Bahan pakan berupa dedak halus (kandungan protein 10% - 16%) dan tepung ikan (50% - 60%). Jika rerata kadar protein bekatul dan tepung ikan adalah 13% dan 55%, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
a. Protein Basal Bekatul (dedak halus) : 13%
b. Protein Suplemen (tepung ikan) : 55%
c. Protein pakan yang dikehendaki : 25%
Jumlah bekatul dan tepung ikan yang dibutuhkan dihitung menurut selisih persentase kandungan (kadar) protein yang dikehendaki.

Formulasi Ransum Pellet buatan Pabrik
Bahan : Kosentrasi (%) , Takaran (Kg/lt)
1. Bekatul/dedak halus : 50% , 50 kg
2. Tepung Ikan : 10% , 10 kg
3. Bungkil Kedelai : 10% , 10 kg
4. Tepung Jagung : 25% , 25 kg
5. Tepung Kepala Udang : 5% , 5 kg
6. Minyak Ikan : - , 0.05 liter
7. Garam mineral : - , 0.05 kg
8. Kalsidol + Vit A : - , 0.05 kg

Analisa Ekonomis Formulasi Pelet Sederhana
100 kg bekatul : Rp.120.000
100 kg ikan rucah : Rp.150.000
1 bungkus perekat : Rp.15.000
Vitamin : Rp.17.000
Petis ikan/minyak ikan : Rp. 7.500
Tenaga Kerja : Rp.105.000
Bensin : Rp. 5.000
JUMLAH : Rp 420.000
Perbandingan antara Formula Pabrik dg pakan buatan sederhana
Pakan Pabrik vs Pakan Buatan sendiri
Padat Tebar = 15.000 ekor : 15.000 ekor
Waktu Pemeliharaan = 60 hari : 67 hari
Jumlah Pakan = 1.200 kg : 1.500 kg
Biaya = Rp 8.040.000 : Rp 5.040.000
Hasil Panen = 1.000 kg : 1.000 kg
Selisih : Rp 3.000.000

sumber: